Assalamualaikum,, , Wr, ,, Wb, ,,

Selamat Datang buat tetamu di PERABOTAN LENONG BLOGGER.

Sebagai wujud Kecintaan juga Melestarikan Adat dan Budaya Betawi yang mungkin sudah sedikit kita lupakan, disinilah kita bisa bertukar pikiran dan berdiskusi tentang masalah Adat dan Budaya Betawi.

Buat para anggota juga bisa menginformasikan dan memberikan sesuatu yang bermanfaat khususnya yang terkait dengan Adat dan Budaya Betawi.

Semoga dengan adanya PERABOTAN LENONG BLOGGER ini, kita semua bisa saling Menginspirasi kepada para anggota dan yang paling penting kita bisa mempererat tali silaturahmi. Amin

Wassalam, ,,

NB :
Pencetus dan Admin berhak menghapus tulisan-tulisan ataupun gambar atau photo yang mengandung SARA, SEX, POLITIK dan IKLAN atau menjelek-jelekan satu dengan yang lain. Terima kasih

Jumat, 17 Februari 2012

Setu Babakan, Kampung Budaya Betawi yang Tersisa


alt
(pintu utama setu babakan) ciganjur jak-sel

Gapura itu tak ubahnya seperti gapura lainnya. Wuwungan atapnya seperti berbentuk piramida.  Tingginya sekitar lima meter. Pada bagian depan pagar tertulis ”Pintu Masuk 1 Bang Pitung”. Dibawah gapura tampak sekelompok pemuda duduk sambil bercengkarama. Sesekali mengajak temannya mengobrol.

Di depannya pengendara mobil sibuk memarkirkan mobilnya. Itulah pintu utama perkampungan budaya Betawi Setu Babakan. Berlokasi  di kelurahan Serengsengsawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lokasi ini mudah dijangkau dengan kendaraan umum dari Ibukota.

Tak jauh dari gapura itu, berdiri seorang bapak paruh baya dengan kopiah hitam beludru agak miring sedikit. Sambil mengatur hilir mudik kendaraan. Satu pengendara mobil menyusuri jalan, pegendara itu sambil melirik kanan kiri, menampakkan wajah penasaran. Dia lantas berhenti dan bertanya.

”Pak, dimana tempatnya? tanyanya sembari melongok lewat jendela mobil.
Bapak paruh baya itu menjawab,” Sono tempatnya,” jawabnya dengan logat betawi yang kental. Bapak itu lantas menyodorkan karcis kuning ke pemilik mobil. Pengendara itupun mengamini yang dikatakan bapak itu.
Gapura pintu masuk Setu Babakan. (Foto: Asari)
Kawasan perkampungan yang luasnya sekitar 289 hektar itu berada di dua buah setu alam yakni Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong. Tidak hanya sebatas setu yang enak dipandang, setu ini menjadi hiburan bagi pengunjung untuk memancing, olahraga kano dan sepeda air. Kedua Setu itu dikelilingi rindangnya pohon-pohon buah yang menjadi ciri khas Betawi seperti kecapi, belimbing, rambutan, sawo, melinjo, pepaya, pisang, jambu dan nangka.  Pohon-pohon itupun juga mengelilingi perumahan warga sekitar.

Disana juga bisa ditemukan rumah-rumah  memiliki teras yang luas, berlantai satu, rumah ini rata-rata dibangun dengan kayu. Dalam rumah terdiri dari ruang tengah, ruang keluarga dan kamar-kamar.  Teras yang luas  menjadi khas rumah Betawi yang biasanya digunakan untuk menerima tamu dan berkumpulnya orang  rumah.   Diantara bangunan itu, galeri budaya Betawi, pada saat itu dipakai pertemuan reunian sebuah sekolah swasta di Jakarta.

Saat wartawan erabaru.net mengunjungi lokasi ini Minggu (30/11) siang, terlihat aktivitas warga di Setu Babakan khas keseharian budaya Betawi. Nampak dari kejauhan sekelompok pemuda berbaju hitam dan putih, memakai kopiah dengan bersabuk hijau membuat lingkaran.

“Hiyatttt !!” teriaknya sembari membanting lawannya.

Brukkk…!! Lawannya pun terjatuh setelah ia berhasil  menghalau pukulan lawannya ke sebelah kanan.
Saat yang sama, peserta latihan lainnya pun memperagakan kuda-kuda sambil memukulkan berkali-kali pukulan. Itu merupakan bagian dari jurus silat Betawi H. Beksi yang pada siang itu sedang latihan.

Tidak jauh dari tempat itu, tepatnya di panggung utama, berdiri pria yang usianya sekitar setengah abad.  Dengan mengenakan baju koko khas, dia pun memperkenalkan dirinya. “Sebut saja saya Bang Nasrun,” ujarnya di panggung. Bang Nasrun mulai memberikan pendahuluan tentang acara pada Minggu itu yang bertepatan dengan hari Budaya Betawi di akhir bulan.

alt
minuman khas betawi (bir pletok)
'Bir Pletok' minuman khas Betawi tak beralkohol. (Foto: Asari)
“Abang-abang dan none-none kita udah kedatangan artis-artis tuh, yang pertama group kasidah Nurul Falah H.Ratna, ayo persilakan,” kata bang Nasrun.

Setengah jam kemudian, group Kasidah Nurul Falah pun menyudahi pertunjukkan mereka. Bang Nasrunpun kembali menyapa penonton.

“Berikutnya adalah gambang kromong Karisma Jaya binaan bang Boin,” seru Bang Nasrun.

Gambang Kromong Karisama Jaya binaan bang Boinpun tampil kepentas. Penontonpun bergegas berdatangan melihat penampilan gambang kromong dengan alat-alat musik yang khas.

“Lenggang lenggang kangkung, lenggang lenggang kangkung, kangkung di pinggir kali, kangkung di pinggir kali, nasib sungguh beruntung punya kekasih cantik sekali, nasib sungguh beruntung punya kekasih cantik sekali,” begitu lirik lagi lenggang kangkung yang mengawali dipentasnya musik gambang kromong.

Selanjutnya ditampilkan tarian “Sirih Kuning” yang dibawakan belasan bocah perempuan berusia sekitar belasan  tahun, tarian yang dominan  gerakan tangan dengan diiringi musik-musik gambang kromong. Bocah-bocah itu mengenakan pakaian yang berwarna-warni, ada yang menggunakan baju hijau daun muda, merah jambu dengan selendang kuning atau merah melilit diantara kedua bahu mereka yang panjangnya hampir menyentuh lantai.

Setelah diawali dengan tarian sirih kuning, Bang Boan dengan Mpok Noni dinobatkan untuk maju ke panggung dengan membawakan lagu renggang buyut. Bang Boan pun bercerita engkongnya dulu ketika menyanyikan lagu ini sungguh sampai lupa diri.

“Waktu nyanyiin ini sampai ketokkan tangannya bikin bangku berlubang,” candanya.

Penyanyi pria dan wanita silih berganti menghibur penonton. Hujanpun mulai turun, penontonpun  bergegas dari tempat mereka. Hujan yang makin lebat disertai badai menghentikan pertunjukkan orkes itu.

Alat musik  yang dimainkan itu terdiri dari alat musik tradisonal China dan  unsur pribumi. Alat-alat musik gesek tradisional china seperti sukong, tehyan dan kongahyan sudah menjadi bagian dari gambang kromong.  Tehyan merupakan alat musik yang dimainkan tanpa dengan tanda nada.

“Khusus main alatnya tehyan kudu pakai perasaan, baru bisa bunyi,” ujar Bang Amat saat ditanya seusai pentas sembari memetikkan bunyi alat musik tehyan. Alat itu sepintas seperti biola, yang sama fungsinya sebagai alat musik gesek.

Gambang kromong merupakan musik tradisonal Betawi yang merupakan campuran tradisional China dan Indonesia, ini terlihat dari alat-alat musiknya bahkan dari lirik lagunya.

“Memang  gambang kromong campuran tradisional China dan pribumi,” ujar Bang Sasmita, perwakilan pengurus gambang kromong Karisma Jaya yang juga merangkap sebagai penyanyi.

Bang Sasmita kepada wartawan erabaru.net menuturkan tentang sulitnya mengembangkan kesenian gambang kromong ditengah persaingan dengan musik modern. Namun demikian, ia optimis gambang kromong akan menjadi pilihan masyarakat untuk kembali musik tradisional.

“Saya yakin masyarakat akan sampai ke titik jenuh dan kembali ke musik tradisional,” paparnya optimis.

Sekitar tiga meter dari tempat itu Mpok Mai menjajakan beberapa botol minuman dengan tulisan “Bir Pletok”. Walaupun namanya tertulis bir, tapi minuman ini tanpa mengandung alkohol.

“Bikinnya dari rempah-rempah,” ujarnya sambil menunjukkan beberapa botol Bir Pletok.

alt
(Kerak telor) makanan khas Betawi.
Konon disebut bir, karena waktu itu orang Belanda suka minum bir hingga mabuk, maka minuman khas Betawi ini ditambah juga dengan istilah “bir”. Minuman ini boleh dikatakan seperti jamu. Terbuat dari campuran rempah-rempah seperti jahe merah, kayu manis, kapulaga, serai, kayu secang dan gula pasir.

Tak jauh dari tempat itu, sebut saja Bang Joni  dengan mengenakan kopiahnya mengambil wajan sambil menuangkan  ketan putih, kemudian dicampur dua pilihan macam telor,  bagi yang suka telor bebek bisa memilih telor bebek atau bagi yang suka telor ayam bisa memilih telor ayam. 
Kemudian dicampur udang kering yang sudah dihaluskan yang dikenal ebi,  parutan kelapa  kering, serta bawang goreng, cabai merah, kencur, jahe, merica, garam sebagai bumbu. Bang Boni memasaknya dengan  arang yang dibakar dengan anglo. Sesekali bang Doni membalikkan campuran ketan putih dan telor itu, hingga terpanggang langsung terkena bara api arang.

“Ini namanya kerak telor,” kata Bang Doni sambil tetap asyiik memasak.

Perkampungan itu sama seperti kawasan biasa lainnya, penghuninya beraktivitas seperti biasanya, diantara mereka pagi bekerja dan pulang pada malamnya.  Namun berdirinya kampung itu didirikan khusus untuk melestarikan berbagai budaya Betawi. “Didirikan hanya untuk melestarikan budaya betawi,” ujar Wani, Staf Pengelola di Depan Kantor Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan kepada wartawan erabaru.net, Minggu (30/11).

Perlu diapresiasi atas itikad baik dari Pemda DKI yang membangun perkampungan budaya Betawi dengan maksud melestarikan budaya asli daerah ini dalam bentuk wisata budaya, wisata air dan wisata agro. Tentunya objek yang ingin dikunjungi oleh wisatawan adalah sesuatu yang memiliki potensi dan daya tarik.
Jika demikian, yang menjadi pertanyaan adalah akankah wisatawan yang telah berkunjung ke lokasi ini, berminat akan kembali lagi?

Kamis, 16 Februari 2012

REBANA BIANG

BETULKAH MUSIK REBANA BIANG TERPINGGIRKAN ?

Megapolitan Jakarta dulu populer disebut Betawi, merupakan gudang kesenian rakyat (folklore) yang banyaK bertebaran diseantero ruang dan waktu. Khasanah kesenian Betawi berkembang pada zamannya tak hanya jenis seni pertunjukan panggung seperti Lenong, Tari, Silat, Cokek, dll. Tetapi banyak pula dijumpai jenis seni musik rakyat semisal Tanjidor, Gambang Kromong, Samrah, Gambus, Rebana, dll.
Penyebaran jenis kesenian tersebut merata dari pusat kota hingga ke pinggiran. Jenis musik khas Betawi pun seabreg. Salah satunya Rebana yang juga bervariasi. Ada Rebana Biang, Rebana Burdah, Rebana Maukhid, Rebana Kasidah, Rebana Dor, Rebana Hadroh, Rebana Maulid, Rebana Ketimpring, dll.
rebana_besar_1.jpg
Disebut Rebana Biang, karena bentuknya yang besar. Jenis musik perkusi dan bermembran ini biasa dimainkan di kampung-kampung, di Masjid, Surau dan tempat-tempat lainnya yang memungkinkan bisa diakses untuk menghibur. Mengiringi berbagai permainan dengan nyanyian dan gerak tari. Di Betawi, permainan rebana biasanya dilakukan dengan menyanyikan lagu-lagu kasidah dan seringkali dalam berbagai keriyaan yang bertalian dengan budaya Islam, seperti Mauludan, Lebaran, Khitanan, Pernikahan, dan lain-lain. Ada perndapat yang mengatakan Rebana berasal dari kata Robbana yang berarti Tuhan kami. Karena di Betawi tempo dulu, Rebana ditabuh dalam kaitannya dengan Islam. Diluar Betawi, Rebana juga berkembang luas dan disebut Terbang.
Selain Rebana Biang yang berukuran gede bergaris tengah mencapai 20 s/d 25 Cm, juga masih ada Rebana Ketimpring berukuran sedang dan pinggirannya terdapat ombyokan logam berbentuk bulat tipis. Kalau ditabuh, ombyokan logam bulat tipis itu menimbulkan suara cring….cring…..cring…. Selain itu ada jenis rebana lainnya seperti Rebana Jati, Rebana Rakep, Rebana Gedak, dan banyak lagi nama Rebana-rebana lainnya menurut istilah dan fungsinya bagi masyarakat Betawi tempo dulu menjadi kegembiraan dan kebanggaan. Rebana Jati – untuk upacara-upacara, Rebana Rakep – untuk mengarak/mengiringi pengantin, Rebana Gedak – mempergunakan pantun Indonesia.
Diluar Betawi pun didapati Rebana. Perkembang pesat di pesisir pantai Utara. Semisal di kawasan Sunan Gunungjati Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal hingga Semarang. Di kota-kota tersebut dijumpai ragam Rebana yang disebut Terbang Kentrung karena bila ditabuh menimbulkan bunyi : drung dung drung…. Drung dung drung…… di tindih nyanyian puji-pujian terhadap Nabi Muhamad, dan jelas bernuansa Islami. Juga Terbang Kenjring yang bunyinya tong tang tong jring, tong jring tong jring …… Biasanya adat menabuh terbang kendrung mau pun Genjring di kawasan pantai Utara untuk menyemarakkan hajatan, mengarak pengantin dan acara khitanan atau keramaian lainnya pada upacara Mauludan.
Musik Rebana juga berkembang jauh diluar Jawa, diseantero Nusantara. Antara lain di Jambi, Palembang, Riau, Sumatera Barat, dll. Agaknya Rebana atau apapun nama dan istilahnya banyak dijumpai di tengah komunitas masyarakat pemeluk Islam. Konon dalam sejarah pengembangnnya, musik Rebana berasal dari Timur Tengah atau jazirah padang pasir Arabia. Di Mesir dan Iran, Rebana berbentuk gendang dan seruling untuk mengiringi tari perut. Seni musik Rebana masuk kawasan nusantara dibawa atau diperkenalkan oleh para pedagang Arab yang tinggal di sepanjang pesisir pantai Indonesia. Dari sanalah Rebana berkembang hingga
indonesia_a05_rebanabiang.jpg
Dalam buku “SENI BUDAYA BETAWI (Pralokakarya Penggalian dan Pengembangannya)” terbitan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Rebana terkesan masih menjadi perdebatan sengit yang mempermasalahkan asal-usulnya. Ada yang setengah ragu menentukan dari mana sebetulnya asal-usul Rebana Betawi yang di diklaim sebagai produk masyarakat Betawi. Ada yang berpendapat, seni musik Rebana masih didapati unsur Bali, karena pelaku atau seniman Rebana banyak yang mengaku berasal dari Bali.
Pendapat lain bersiteguh mengatakan, Rebana menurut perkembangannya diciptakan oleh Pak Saiman dari aspirasinya ketika air hujan rintik-rintik diatap rumahnya yang bocor. Namun pernyataan tersebut tidak akurat. Tidak disinggung siapa itu Pak Saiman, dimana tempat tinggalnya dan sejak kapan memperkenalkan kepada khalayak dan kapan mulai dikembangkan.
“Kendati pun musik rakyat banyak dipengaruhi dari luar”, kata Iskandar, pakar seniman Betawi, “Tetapi tetap melalui proses pengembangan dan pengolahan untuk bisa diterima”. Dikatakan pula Rebana bukanlah pengaruh dari Bali, tetapi pengaruh dari Arab, terutama karena lagu-lagu pujaan /pujian terhadap nilai yang diiringi dengan rebana. Kendati pun di Arab tidak ada jenis musik yang dinamakan Rebana.
Asal-usul Rebana memang masih simpang-siur karena disana-disi masih saja muncul perbedaan pendapat di kalangan pakar kesenian Betawi. Tetapi dalam alam demokrasi kita pun harus menghargai pendapat yang berbeda. Karena tidak selalu pendapat berbeda itu negatif bahkan saling mewarnai ibarat warna pelangi yang beraneka ragam yang tampak indah. Tetapi Haji Azis, salah satu tokoh Betawi, bersikap netral. Dari pada repot memikirkan dari mana asal-usul musik tersebut, ia mengatakan bahwa yang perlu diketahui oleh berbagai pihak ialah fungsi Rebana itu sendiri yang tingkatannya. Pertama untuk mengiringi sejarah Maulud yang diambil dari Kitab Syariful Aman, kedua menjelaskan Kitab Giba, ketiga menjelaskan Kitab Burdah dan keempat Maulid Nabi. Jadi semua itu sebagai pengiring pantun lahirnya Nabi Muhammad,
Pendapat lain menjelaskan, Rebana bukan berasal dari Bali, atau bukan dari Betawi. Tetapi berasal dari daerah Sumatera Selatan, yang berfungsi untuk upacara-upacara, salah satunya Maulud dan lain-lain. Sebagai alat musik pengiring nyanyian yang mempergunakan prosa-prosa Arab tinggi (bukan ayat-ayat Al Quran) karena mulanya Rebana banyak digelar di Masjid-masjid, Surau dan di tengah komunitas Muslim. Walaupun musik Rebana lebih kencang ditindih puji-pujian yang memuliakan asma Allah dan menggunakan bahasa Arab, namun ada pula yang mengatakan Rebana bukan dari Timur Tengah.
FX Haryadi, salah seorang musikolog yang saat hidupnya nongkrong di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, mengatakan hakekat folklore musik, yang terpenting ialah hubungan antara musik dan lingkungannya (tanah-rakyat-seni). Yang dimaksud dengan pendukung folklore musik itu sendiri dapat dibedakan :
-  penduduk Jakarta Kota
- penduduk Jakarta pinggiran, dan bagaimana kemudian seluruh penduduk itu bisa terintegrasi. Masalah pengaruh atau asal muasal bukanlah persoalan yang mesti diperdebatkan.
Banyak diantara pakar dan seniman Betawi yang menghendaki agar kesenian Betawi salah satunya seni musik Rebana Biang dikembangkan dan dilestarikan agar tak lenyap dari permukaan kota Jakarta. Tetapi zaman terus berubah dan bergeser sekian derajat. Sehingga apa yang diharapkan meleset adanya. Gerak Rebana Biang di kota yang dulu kencang disebut Betawi kian ciut dan terpinggirkan. Pusat-pusat kegiatan berseni musik Rebana Biang di Ciganjur, Cijantung, Cakung, Cise’eng, Parung, Pondok Rajeg, Bojong Gede, Citayam, Condet, Lubang Buaya, Sugih Tamu, Pondok Cina, Bintaro, dan Curug dekat Depok, ternyata sudah banyak yang sirna.
Umumnya grurp-grup Rebana Biang, yang dekat di lingkungan perkotaan, seperti Rebana Biang Ciganjur, lebih banyak memiliki perbendaharaan lagu-lagu dzikir berbahasa Arab atau lagu-lagu yang linknya berbahasa Betawi, atau bahasa Sunda, yang bagi senimannya sendiri kurang dipahami artinya. Tetapi makin terpinggirnya musik Rebana Biang dari kehiruk-pikukan Megapolitan Jakarta, bukan berarti habis sudah. Karena jenis musik tersebut masih bisa didengar sekali-sekali ketika orang merayakan HUT Jakarta.