Gapura itu tak ubahnya seperti gapura lainnya. Wuwungan atapnya seperti
berbentuk piramida. Tingginya sekitar lima meter. Pada bagian depan
pagar tertulis ”Pintu Masuk 1 Bang Pitung”. Dibawah gapura tampak
sekelompok pemuda duduk sambil bercengkarama. Sesekali mengajak temannya
mengobrol.
Di depannya pengendara mobil sibuk memarkirkan mobilnya. Itulah pintu
utama perkampungan budaya Betawi Setu Babakan. Berlokasi di kelurahan
Serengsengsawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lokasi ini mudah
dijangkau dengan kendaraan umum dari Ibukota.
Tak jauh dari gapura itu, berdiri seorang bapak paruh baya dengan kopiah hitam beludru agak miring sedikit. Sambil mengatur hilir mudik kendaraan. Satu pengendara mobil menyusuri jalan, pegendara itu sambil melirik kanan kiri, menampakkan wajah penasaran. Dia lantas berhenti dan bertanya.
”Pak, dimana tempatnya? tanyanya sembari melongok lewat jendela mobil.
Tak jauh dari gapura itu, berdiri seorang bapak paruh baya dengan kopiah hitam beludru agak miring sedikit. Sambil mengatur hilir mudik kendaraan. Satu pengendara mobil menyusuri jalan, pegendara itu sambil melirik kanan kiri, menampakkan wajah penasaran. Dia lantas berhenti dan bertanya.
”Pak, dimana tempatnya? tanyanya sembari melongok lewat jendela mobil.
Bapak paruh baya itu menjawab,” Sono tempatnya,” jawabnya dengan logat
betawi yang kental. Bapak itu lantas menyodorkan karcis kuning ke
pemilik mobil. Pengendara itupun mengamini yang dikatakan bapak itu.
Gapura pintu masuk Setu Babakan. (Foto: Asari)
Kawasan perkampungan yang luasnya sekitar 289 hektar itu berada di dua
buah setu alam yakni Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong. Tidak hanya
sebatas setu yang enak dipandang, setu ini menjadi hiburan bagi
pengunjung untuk memancing, olahraga kano dan sepeda air. Kedua Setu itu
dikelilingi rindangnya pohon-pohon buah yang menjadi ciri khas Betawi
seperti kecapi, belimbing, rambutan, sawo, melinjo, pepaya, pisang,
jambu dan nangka. Pohon-pohon itupun juga mengelilingi perumahan warga
sekitar.
Disana juga bisa ditemukan rumah-rumah memiliki teras yang luas, berlantai satu, rumah ini rata-rata dibangun dengan kayu. Dalam rumah terdiri dari ruang tengah, ruang keluarga dan kamar-kamar. Teras yang luas menjadi khas rumah Betawi yang biasanya digunakan untuk menerima tamu dan berkumpulnya orang rumah. Diantara bangunan itu, galeri budaya Betawi, pada saat itu dipakai pertemuan reunian sebuah sekolah swasta di Jakarta.
Saat wartawan erabaru.net mengunjungi lokasi ini Minggu (30/11) siang, terlihat aktivitas warga di Setu Babakan khas keseharian budaya Betawi. Nampak dari kejauhan sekelompok pemuda berbaju hitam dan putih, memakai kopiah dengan bersabuk hijau membuat lingkaran.
“Hiyatttt !!” teriaknya sembari membanting lawannya.
Brukkk…!! Lawannya pun terjatuh setelah ia berhasil menghalau pukulan lawannya ke sebelah kanan.
Saat yang sama, peserta latihan lainnya pun memperagakan kuda-kuda sambil memukulkan berkali-kali pukulan. Itu merupakan bagian dari jurus silat Betawi H. Beksi yang pada siang itu sedang latihan.
Tidak jauh dari tempat itu, tepatnya di panggung utama, berdiri pria yang usianya sekitar setengah abad. Dengan mengenakan baju koko khas, dia pun memperkenalkan dirinya. “Sebut saja saya Bang Nasrun,” ujarnya di panggung. Bang Nasrun mulai memberikan pendahuluan tentang acara pada Minggu itu yang bertepatan dengan hari Budaya Betawi di akhir bulan.
Disana juga bisa ditemukan rumah-rumah memiliki teras yang luas, berlantai satu, rumah ini rata-rata dibangun dengan kayu. Dalam rumah terdiri dari ruang tengah, ruang keluarga dan kamar-kamar. Teras yang luas menjadi khas rumah Betawi yang biasanya digunakan untuk menerima tamu dan berkumpulnya orang rumah. Diantara bangunan itu, galeri budaya Betawi, pada saat itu dipakai pertemuan reunian sebuah sekolah swasta di Jakarta.
Saat wartawan erabaru.net mengunjungi lokasi ini Minggu (30/11) siang, terlihat aktivitas warga di Setu Babakan khas keseharian budaya Betawi. Nampak dari kejauhan sekelompok pemuda berbaju hitam dan putih, memakai kopiah dengan bersabuk hijau membuat lingkaran.
“Hiyatttt !!” teriaknya sembari membanting lawannya.
Brukkk…!! Lawannya pun terjatuh setelah ia berhasil menghalau pukulan lawannya ke sebelah kanan.
Saat yang sama, peserta latihan lainnya pun memperagakan kuda-kuda sambil memukulkan berkali-kali pukulan. Itu merupakan bagian dari jurus silat Betawi H. Beksi yang pada siang itu sedang latihan.
Tidak jauh dari tempat itu, tepatnya di panggung utama, berdiri pria yang usianya sekitar setengah abad. Dengan mengenakan baju koko khas, dia pun memperkenalkan dirinya. “Sebut saja saya Bang Nasrun,” ujarnya di panggung. Bang Nasrun mulai memberikan pendahuluan tentang acara pada Minggu itu yang bertepatan dengan hari Budaya Betawi di akhir bulan.
![]() |
| minuman khas betawi (bir pletok) |
'Bir Pletok' minuman khas Betawi tak beralkohol. (Foto: Asari)
Setengah jam kemudian, group Kasidah Nurul Falah pun menyudahi pertunjukkan mereka. Bang Nasrunpun kembali menyapa penonton.
“Berikutnya adalah gambang kromong Karisma Jaya binaan bang Boin,” seru Bang Nasrun.
Gambang Kromong Karisama Jaya binaan bang Boinpun tampil kepentas. Penontonpun bergegas berdatangan melihat penampilan gambang kromong dengan alat-alat musik yang khas.
“Lenggang lenggang kangkung, lenggang lenggang kangkung, kangkung di pinggir kali, kangkung di pinggir kali, nasib sungguh beruntung punya kekasih cantik sekali, nasib sungguh beruntung punya kekasih cantik sekali,” begitu lirik lagi lenggang kangkung yang mengawali dipentasnya musik gambang kromong.
Selanjutnya ditampilkan tarian “Sirih Kuning” yang dibawakan belasan bocah perempuan berusia sekitar belasan tahun, tarian yang dominan gerakan tangan dengan diiringi musik-musik gambang kromong. Bocah-bocah itu mengenakan pakaian yang berwarna-warni, ada yang menggunakan baju hijau daun muda, merah jambu dengan selendang kuning atau merah melilit diantara kedua bahu mereka yang panjangnya hampir menyentuh lantai.
Setelah diawali dengan tarian sirih kuning, Bang Boan dengan Mpok Noni dinobatkan untuk maju ke panggung dengan membawakan lagu renggang buyut. Bang Boan pun bercerita engkongnya dulu ketika menyanyikan lagu ini sungguh sampai lupa diri.
“Waktu nyanyiin ini sampai ketokkan tangannya bikin bangku berlubang,” candanya.
Penyanyi pria dan wanita silih berganti menghibur penonton. Hujanpun mulai turun, penontonpun bergegas dari tempat mereka. Hujan yang makin lebat disertai badai menghentikan pertunjukkan orkes itu.
Alat musik yang dimainkan itu terdiri dari alat musik tradisonal China dan unsur pribumi. Alat-alat musik gesek tradisional china seperti sukong, tehyan dan kongahyan sudah menjadi bagian dari gambang kromong. Tehyan merupakan alat musik yang dimainkan tanpa dengan tanda nada.
“Khusus main alatnya tehyan kudu pakai perasaan, baru bisa bunyi,” ujar Bang Amat saat ditanya seusai pentas sembari memetikkan bunyi alat musik tehyan. Alat itu sepintas seperti biola, yang sama fungsinya sebagai alat musik gesek.
Gambang kromong merupakan musik tradisonal Betawi yang merupakan campuran tradisional China dan Indonesia, ini terlihat dari alat-alat musiknya bahkan dari lirik lagunya.
“Memang gambang kromong campuran tradisional China dan pribumi,” ujar Bang Sasmita, perwakilan pengurus gambang kromong Karisma Jaya yang juga merangkap sebagai penyanyi.
Bang Sasmita kepada wartawan erabaru.net menuturkan tentang sulitnya mengembangkan kesenian gambang kromong ditengah persaingan dengan musik modern. Namun demikian, ia optimis gambang kromong akan menjadi pilihan masyarakat untuk kembali musik tradisional.
“Saya yakin masyarakat akan sampai ke titik jenuh dan kembali ke musik tradisional,” paparnya optimis.
Sekitar tiga meter dari tempat itu Mpok Mai menjajakan beberapa botol minuman dengan tulisan “Bir Pletok”. Walaupun namanya tertulis bir, tapi minuman ini tanpa mengandung alkohol.
“Bikinnya dari rempah-rempah,” ujarnya sambil menunjukkan beberapa botol Bir Pletok.

(Kerak telor) makanan khas Betawi.
Tak jauh dari tempat itu, sebut saja Bang Joni dengan mengenakan kopiahnya mengambil wajan sambil menuangkan ketan putih, kemudian dicampur dua pilihan macam telor, bagi yang suka telor bebek bisa memilih telor bebek atau bagi yang suka telor ayam bisa memilih telor ayam.
Kemudian dicampur udang kering yang sudah dihaluskan yang dikenal ebi,
parutan kelapa kering, serta bawang goreng, cabai merah, kencur, jahe,
merica, garam sebagai bumbu. Bang Boni memasaknya dengan arang yang
dibakar dengan anglo. Sesekali bang Doni membalikkan campuran ketan
putih dan telor itu, hingga terpanggang langsung terkena bara api arang.
“Ini namanya kerak telor,” kata Bang Doni sambil tetap asyiik memasak.
Perkampungan itu sama seperti kawasan biasa lainnya, penghuninya beraktivitas seperti biasanya, diantara mereka pagi bekerja dan pulang pada malamnya. Namun berdirinya kampung itu didirikan khusus untuk melestarikan berbagai budaya Betawi. “Didirikan hanya untuk melestarikan budaya betawi,” ujar Wani, Staf Pengelola di Depan Kantor Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan kepada wartawan erabaru.net, Minggu (30/11).
Perlu diapresiasi atas itikad baik dari Pemda DKI yang membangun perkampungan budaya Betawi dengan maksud melestarikan budaya asli daerah ini dalam bentuk wisata budaya, wisata air dan wisata agro. Tentunya objek yang ingin dikunjungi oleh wisatawan adalah sesuatu yang memiliki potensi dan daya tarik.
Jika demikian, yang menjadi pertanyaan adalah akankah wisatawan yang
telah berkunjung ke lokasi ini, berminat akan kembali lagi?
“Ini namanya kerak telor,” kata Bang Doni sambil tetap asyiik memasak.
Perkampungan itu sama seperti kawasan biasa lainnya, penghuninya beraktivitas seperti biasanya, diantara mereka pagi bekerja dan pulang pada malamnya. Namun berdirinya kampung itu didirikan khusus untuk melestarikan berbagai budaya Betawi. “Didirikan hanya untuk melestarikan budaya betawi,” ujar Wani, Staf Pengelola di Depan Kantor Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan kepada wartawan erabaru.net, Minggu (30/11).
Perlu diapresiasi atas itikad baik dari Pemda DKI yang membangun perkampungan budaya Betawi dengan maksud melestarikan budaya asli daerah ini dalam bentuk wisata budaya, wisata air dan wisata agro. Tentunya objek yang ingin dikunjungi oleh wisatawan adalah sesuatu yang memiliki potensi dan daya tarik.



